garis kemiskinan

apakah garis kemiskinan yang kita gunakan sudah ideal?

Tali Tuhan

Apapun tentang hidup adalah sesuatu yang kita lakoni sekarang sebagai manusia bernafas..

inequality

Kenapa kita perlu peduli ketimpangan. Apakah ini hanya sesederhana konsekuensi sistem ekonomi atau lebih dari itu?

Mencari Tahu

Apakah pencarian itu berakhir ketika selesai atau harus selesai.

Dimana?

Pernah tidak kamu bertanya dalam hati, "mana diriku"?

Senin, Desember 10, 2018

mulai (lagi)

Bahkan menulis kalimat pertamanya menjadi sulit, rasanya perlu ada kalimat yang menggugah dan membuka mata hati pembaca sehingga tidak kembali menekan tanda silang di kanan atas dan kembali ke aplikasi intagram yang jelas lebih menarik. Jadilah saya tulis ini sebagai paragraf pembuka dalam bentuk pengakuan rasa ingin menulis kembali blog ini dan kebingungan bagaimana cara memulainya.

Saya ingat dulu pertama kali ini di launching (caelaaa) walaupun tanpa riuh karangan bunga dan kembang api tapi ada janji yang dibawa. Janji bahwa saya akan menjadikan halaman ini seperti buku harian, menceritakan hal hal hal yang sebenarnya sederhana namun kadang otak yang pas pasan ini menangkapnya secara rumit. Satu lagi, dulu saya membayangkan ini semua akan jadi bahan lelucon nanti pas sudah tua (membayangkan dibaca agis dan teman temannya) dan sekarang sudah tua bahannya belum ada hahaha.

Kenyataanya, menulis menjadi lebih sulit ketimbang memposting foto lalu menambahkan sedikit kalimat penuh motivasi dan atau sekedar emoticon hati. Bahkan bisa langsung diapresiasi, hal yang sepertinya serupa doping di hidup kekinian. tapi pagi ini saya mau memulai lagi, siapa tau..

kalau menulis itu berbanding lurus dengan banyaknya pengalaman hidup,
harusnya makin tua makin banyak yang diceritakan,
tapi, kenyataanya makin sulit,


Dulu waktu di kampus menulis jadi kegiatan yang dijadwalkan, hampir pasti seminggu sekali bahkan lebih sering kalau hati sedang gundah saya pergi ke depan Benteng Vredeburg di jalan malioboro, berbekal satu buku paperline bercover kuning dan satu pulpen pilot. dan lalu sebagiannya saya pindahkan ke blog ini sepulang ke kost-an. 





Sekarang hidup makin monoton, 
pagi pagi bersiap ke kantor dan berlanjut dengan diskusi dan tulisan berupa laporan
lalu pulang, bermain dengan Mia dan Agis hingga jarak antara pulang dan pergi hanya dibatasi oleh tidur yang tidak pernah memadai (amacaaa).

Sama sekali tidak menyedihkan tapi terlalu rutin untuk bisa diceritakan dalam blog personal. Tidak seperti dulu kala kuliah di mana paginya membedah buku Mankiw sore  kemalam berdiskusi tentang Karl Max dan keyakinannya lalu istirahat dengan candaan jewish bersama teman kontrakan (sombong nian kau anak muda)

kenapa ya kok bisa?
saya sendiri juga bertanya, di salah satu catatan di hape saya pernah menulis bahwa kadang suasana hati yang sedih dan gundah jauh lebih membantu untuk membuat kita menulis. salah satu buktinya yang saya yakini adalah jauh lebih banyak puisi sedih ketimpang puisi gembira kecuali barangkali sebaliknya oleh tasya kamila. 

alasan saja, 
alasan saja sebenarnya kenapa menulis menjadi hal yang sulit, dibungkus rasionalisasi bahwa sudah bukan jamannya blog karena sekarang eranya instagram yang penuh simbol hati, twitter yang singkat padat-receh-dan jelas dan facebook menginklusikan jualan kacamata online dengan sumbang saran pemikiran tentang peradaban dalam satu laman.

tapi rasanya ada yang spesial dengan tulisan blog,
menuangkan tulisan atau foto di instagram, twitter dan facebook seperti menyodorkan sesuatu kepada halaman siapapun yang sudah memilih mengituki sejak awal akan mendapatkannya suka tidak suka. sedangkan blog adalah rumah untuk orang pemalu seperti saya (yaelaahh) yang mungkin ingin berbagi cerita tapi tidak mau di keramaian. maunya di sini saja, kita saja yang tau. (lebb lebb lebb lebbaayyy)

oke, 
kita harus mneyesaikan yang kita mulai,
semoga besok ada lanjutannya,
dan kita akan memanen apa yang kita tanam
sampai jumpa wa akhirullakalam

Jakarta, 11 Desember 2018












Minggu, Mei 31, 2015

Ketimpangan: Peduli Amat?


Dalam lima tahun terakhir tingkat kemiskinan Indonesia terus menurun, namun di saat yang bersamaan ketimpangan makin meningkat. Tingkat kemiskinan turun dari 18,2 persen tahun 2002  menjadi 10,96 per maret 2014. Sementara itu gini rasio sebagai representasi tingkat ketimpangan meningkat dari 0,33 tahun 2002 menjadi 0,41 di 2014, tertinggi dalam sejarah Indonesia. Berdasarkan rilis data terakhir BPS 40 persen penduduk berpendapatan terendah di Indonesia hanya menyumbang 16,8 persen total pendapatan. Sebaliknya 20 persen penduduk dengan nilai pendapatan tertinggi menyumbang 49 persen.

Lalu apa penyebabnya? Untuk kasus Indonesia, kita perlu melihat dari sejarah ketimpangan itu sendiri, sebelum krisis 1998 tingkat ketimpangan relatif rendah dan stabil. Setelah krisis, tingkat ketimpangan antar kelompok pendapatan meningkat seiring tumbuhnya sektor industri dan jasa. Jika kita membaginya menjadi dua, ketimpangan antara moneter dan non moneter, akan terlihat bahwa ketimpangan moneter seperti tercermin dari nilai gini rasio selaras dengan  ketimpangan terhadap faktor non meneter seperti akses terhadap pendidikan, kesehatan, identitas hukum terutama bagi penduduk di daerah terluar dan terisolasi. Kondisi ini menjadi faktor awal penyebab perbedaaan produktivitas dari kelompok pendapatan.

Disamping kondisi tersebut secara spesifik terdapat faktor lain yang menyebabkan meningkatnya ketimpangan di suatu negara. Pertama, tren adaptasi teknologi yang semakin besar. Di mana banyak pekerjaan yang digantikan fungsinya oleh mesin. Kondisi ini menyebabkan banyak dari tenaga kerja tidak terampil dalam jenis usaha padat karya digantikan fungsinya oleh mesin. Kita bisa bayangkan berapa banyak tenaga kerja yang tergantikan dengan keberadaaan mesin pengolah tanah dan mesin panen. Kedua, akses terhadap pendidikan. Penduduk dengan tingkat pendidikan tinggi secara umum memiliki tingkat produktifitas yang lebih tinggi dan pendapatan yang lebih baik.

Ketiga, akses dan mobilitas terhadap pusat ekonomi. Kondisi negara kepulauan seperti Indonesia menjadi tantangan tersendiri karena masih banyak daerah yang terisolasi dan sulit untuk diakses. Keempat, pernikahan pasangan dari status sosial yang sama. Bisa kita bayangkan akumulasi modal dari dua pasangan sesama persentil terkaya dibandingkan dengan pasangan yang keduanya berasal dari persentil termiskin. Kelima, biasa disebut sebagai  economic of superstar. Sebagai contoh seorang Raisa bisa menghasilkan ratusan juta perbulan secara pribadi jauh lebih besar dibandingkan dengan total penghasilan penduduk satu kecamatan kantong kemiskinan.

Dalam perspektif ekonomi ketimpangan pendapatan adalah hal yang tidak terbantahkan. Setiap orang memiliki modal ekonomi yang berbeda yang kemudian menciptakan perbedaan produktifitas diantara mereka dan berakhir pada perbedaan tingkat pendapatan. Dengan asumsi dasar ini, kemudian pertanyaanya beralih menjadi kapan ketimpangan ini akan menjadi masalah untuk kita? Seberapa besar ketimpangan yang bisa ditoleransi negara ini? Dan dari sudut pandang politik, bagaimana pengaruh ketimpangan terhadap demokrasi Indonesia?

Dalam RPJMN 2015-2019 Jokowi menargetkan tingkat ketimpangan menurun hingga 0,36 pada tahun 2019. Untuk tahun 2015 sendiri dalam RKP Bappenas menargetkan ketimpangan turun hingga level 0,39. Namun rasanya target ini masih jauh panggang dari api, terlebih bila kita melihat tren lima tahun terakhir. Berdasarkan distribusi pertumbuhan ekonomi per kelompok pendapatan, kita dapati 10 persen terkaya tumbuh empat kali lipat dibanding 40 persen kelompok pendapatan terendah. Namun janji Jokowi adalah hutang yang wajib dilunasi.

Lalu apa solusinya?
Tentu tidak ada satu obat generik untuk ketimpangan ini, namun di awal periode perintahan kabinet kerja ini ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pemerataan. Dalam perspektif penyebab dasar ketimpangan ini adalah perbedaan kesempatan dan akses pada berbagai faktor pendukung produksi, maka dua faktor ini adalah hal utama yang harus menjadi fokus kebijakan.

 Jangka pendek yang bisa dilakukan adalah kaji ulang terkait kebijakan pajak progresif, memang bukan perkara mudah tapi perlu untuk dipertimbangkan. Sebagai catatan dasar yang harus dilakukan adalah pajak atak kekayaan bukan pajak atas pendapatan. Kedua, menerapkan efisiensi belanja. Pemerintah sekarang sudah memulainya dengan baik, tapi masih banyak ruang penghematan terutama dari segi belanja operasional. Dalam jangka panjang pemerintah harus mendorong penyediaan back line service seperti bantuan infrastrtuktur dasar dan peningkatan keterjangkauan jaminan sosial dan kesehatan serta front line service seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, identitas hukum khususnya bagi kelompok menengah ke bawah. Ketersediaan infrastruktur dasar ini adalah prasarat untuk mendorong mereka keluar dari kelompok miskin dan rentan. Kedua, mempercepat pembangunan infrastruktur penunjangn ekonomi untuk meningkatkan konektifitas antar wilayah, membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru dan mempermudah migrasi penduduk.
Ketimpangan dan demokrasi

Terakhir kenapa ketimpangan ini penting untuk sedari awal diantisipasi? Karena ekonomi dan politik adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dalam era demokrasi. Polarisasi ekonomi pada segelintir kelompok dikhawatir akan mendorong pelemahan daya tawar kelompok ekonomi lainnya. Dalam waktu dekat kita akan menjalani pemilihan pemimpin daerah secara serentak, kita perlu untuk memastikan bahwa hak suara setiap orang tidak teraleniasi karena status ekonominya.

Selasa, Maret 11, 2014

meminta



Perca cerita ini adalah tentang doa. Tentang aku yang suka salah memahaminya dan tentang dia (doa) yang ternyata guru mulia perkara cinta.

Aku awali dengan pertanyaan, 
siapa aku dalam sebuah transaksi bernama doa?

Berdoa adalah soal meminta (bukan?), dalam perkara meminta tentu letak pemberi berada pada posisi lebih menguasai. Tapi ku ingat-ingat waktu jeda selepas tahyat lebih banyak aku yang malas meminta, diselingi senyum simpul hatiku bilang “bukankah yang lebih pantas malas adalah dia yang akan memberi?”Tanpa sadar aku suka membolak balik subjek dan objek dari sebuah doa.

Bahkan aku letakkan doa sebagai bagian dari tuntutan penghambaan, padahal dijelaskan bahwa doa adalah kunci ibadah. Tentu kunci bukanlah dia yang sama dengan apa yang ada di dalam pintu yang akan dibuka, dia lebih penting. Yang lebih membuat malu, itu kunci adalah untuk aku bisa mendapati apa yang aku mau. Bukan untuk Dia, toh Tuhan sudah punya segalanya. Tak beragamapun bukan soal untukNya.

Kemudian dibanyak kesempatan, sombong mengusai diriku. Aku berjalan di bumi melakukan banyak hal tanpa memperdulikan Tuhan menguasaiku. Seakan takdir digenggaman tangan sendiri. Lalu saat terdesak baru ku kembali duduk bersimpuh di sajadah, meminta berkah - meminta dilimpahkan bahagia. Memalukan.

Pertanyaan selanjutnya kulontarkan,
Besar mana cintaku pada Tuhan atau Dia kepadaku?

Malam tadi dijawab dengan sangat lembut lewat sebuah kisah, diceritakan dalam satu hadits bahwa Tuhan berseru pada nabinya.

“Ya Muhammad Aku merasa sangat kesepian, 
Ya Muhammad Aku merasa sangat kelaparan, 
Ya Muhammad Aku merasa sangat kedinginan.”

 Muhammad bertanya dalam heran,
“Bukankan Engkau Maha Kaya, Maha Menguasai seisi bumi, Kenapa Bisa?”

 Lalu Allah Menjawab

“Aku kesepian karena banyak hambaku yang terlantar tanpa ada yang membesuknya, 
Aku kelaparan karena banyak hambaku yang kelaparan tapi taka da yang memberinya makan, 
Aku kedinginan karena banyak hambaku yang kedinginan tanpa ada yang memberinya selimut”

Tuhan sudah blusukan sejak lama..

Dalam kehidupan sehari hari, hal serupa aku dapati dalam kisah antara ibu dan anaknya. Saat si anak sakit sering seorang Ibu menyebut  “Ya Allah pindahkanlah sakitnya padaku, terlalu kecil dia untuk merasakan sakit seberat ini”. Tak salah menyebut cinta ibu sepanjang jalan.

Sekarang coba jawab, siapa yang lebih mencintai?
Ternyata potongan hadits di atas mencoba mendidik, tidak hanya sekedar memberi tahu bahwa tuhan lebih mencintai kita tapi tentang apa yang harus kita lakukan untuk orang yang kita cintai. Tentang menjadi satu dengan apa yang dicintai.

Malu, mendapati daftar dan riwayat permintaan doaku selama ini. Jarang aku meminta agar dijaga hati untuk terus mengingatnya, Hampir tak pernah aku memohon agar tak ringan badan meninggalkan ibadah padanya. Teryata cintaku pada tuhan masih sangat jauh.

Sejalan dengan itu, ternyata ini menjawab pertanyaan ketiga,
Kapan bisa menemukan Tuhan?

Kita suka bertanya-tanya di mana dan kapan nyata eksistensi Tuhan. Tapi kita sering mencari Tuhan seperti mencari jarum hilang, kita ‘kusai’ semua hal dan kita bertanya pada sekitar. Padahal yang harus dilakukan untuk menemukan Tuhan adalah menghilangkan diri. Membunuh keakuan.

Seperti disebut dalam sebuah hadits "Menjauhlah dari ke akuanmu, agar kau temukan Tuhamu"  dirawikan mutafakun alaih.



3 Maret 2014
Terima kasih doa, yang selalu mendekatkan
Hari pertamaku menjadi seorang abdi negara




Kamis, Mei 23, 2013

kita



tidak lagi perlu aku rasa bercerita panjang lebar.
karena ya, hanya kita.
kita :)


Rabu, Mei 01, 2013

lalu?

Hampir genap tiga bulan setelah bandul di topi toga di geser ke kanan. Kini aku masih di tanah istimewa dalam ragu menjelaskan apakah sedang menjalani masa depan atau sedang menunggu untuk pergi ke yang sebenarnya masa depanku. Seperti kebanyakan teman yang lain, Ibu Kota menjadi pilihan favorit meskipun mereka sering mengumpat soal penat dan jalanan yang padat. Tapi sepertinya terbayar tunai dengan tambahan saldo di rekening mereka tiap bulannya.

Entah naif entah benar-benar betul bahwa kita perlu bekerja sesuai passion. entah telat ataukah memang tak mau memulai lagi bahwa kadang kita baru sadar yang kita pelajari selama ini adalah bukan passion kita. Entah terjadi pada kamu atau aku hari ini bahwa aku menyadari keduanya sedang menggelayuti pikiranku. Kadang membuat ingin memulai lagi dari awal kadang berusaha tak mendengar bisikan hati dan bekerja saja demi pundi-pundi. sayangnya yang kedua lebih sering menang.

Banyak sekali pertimbangan yang muncul saat membicarakan masa depan. Ku coba mengingat satu-persatu pertimbangan itu di dominasi oleh perangkat si masa depan itu sendiri. Tentang bagaimana anak istriku kelak, dimana akan tinggal nanti, akan berjarak tidak dari keluarga dsb. Hebat sekali kalau dipikir-pikir, mereka semua abstrak dalam semua pertimbangan yang abstrak gilanya lagi mereka semua itu dalam semesta rahasia Ilahi.

....

Tulisan di atas adalah draft yang tidak sempat diposting sejak lima bulan lalu, tadi selepas istirahat siang saya mengutak-atik blog dan menemukannya. membacanya dengan komputer kantor di Medan Merdeka Barat. Akhirnya aku sudah memutuskan dan sekarang menjalaninya dengan bahagia. Satu saja yang terbersit dipikiran, Perlu memang berpikir hingga matang, lebih perlu lagi mengambil keputusan setelahnya.




1 Mei 2013
Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi
Medan Merdeka Barat